Pemateri 1 : Dr. Nurul Ghufron, S. H., M. H. Judul : Generasi Muda berintegritas Anti korupsi
Hasil Resume :
Korupsi marak terjadi di Indonesia , namun sering terjadi pada orang- orang yg mampu , atau kalangan orang yang terpandang maupun pejabat. Sering terdengar sekali di kalangan masyarakat.
Inilah Akibat Korupsi
Bukan saja Uang, tapi SDM dan Harapan bangsa hancur
hal-hal yang menggambarkan dampak korupsi, seperti:
-Ifrastruktur rusak (jembatan runtuh). -Lingkungan terbengkalai. -Anak-anak yang terabaikan. -Tumpukan sampah dan kemiskinan.
Convention Against Corruption (UNCAC) / UU No. 7 Tahun 2006 yang mengatur pencegahan dan pemberantasan korupsi.
1. Merusak proses demokrasi
→ Korupsi melemahkan partisipasi rakyat, manipulasi kebijakan, dan membuat demokrasi tidak sehat. .
2.Meruntuhkan hukum
→ Aturan menjadi tidak adil karena hukum bisa dibeli, aparat tidak berintegritas.
3. Menurunkan kualitas hidup / pembangunan berkelanjutan
→ Anggaran publik bocor, infrastruktur rusak, pelayanan publik buruk, rakyat semakin miskin.
4. Menyebabkan kejahatan lain berkembang
→ Korupsi membuka jalan bagi kriminalitas lain, seperti pencucian uang, perdagangan ilegal, dll.
5. Pelanggaran hak asasi manusia (HAM)
→ Rakyat tidak mendapat hak dasar (pendidikan, kesehatan, keadilan) karena korupsi.
6. Merusak pasar, harga, & persaingan usaha yang sehat
→ Perusahaan yang jujur kalah bersaing dengan yang memberi suap, sehingga ekonomi tidak adil.
Ringkasan dari gambar di atas :
1. Profesi swasta, anggota DPR, dan pejabat eselon merupakan kelompok paling banyak terjerat kasus korupsi.
2. Penyuapan adalah modus korupsi terbesar di Indonesia, diikuti pengadaan barang/jasa.
3. Korupsi melibatkan berbagai lapisan, mulai dari pejabat tinggi, aparat hukum, hingga sektor swasta.
Karakter Patriotis Bangsa yg harus dimiliki dalam menanggulangi masalah korupsi ini :
Kecintaan pada tanah air dan rakyat,Kerelaan berkorban (tenaga, harta, jiwa),Persatuan dalam keragaman bangsa, Saling menghargai dan solidaritas,Kesederhanaan, Kemandirian.
Indeks Persepsi Korupsi tahun 2019 yang dibuat oleh Transparency International. Peta ini memperlihatkan skor dari berbagai negara di dunia mengenai tingkat persepsi korupsi di sektor publik (semakin tinggi skor, semakin bersih dari korupsi).
Beberapa skor negara yang ditampilkan di peta:
Denmark: 87 → termasuk negara paling bersih dari korupsi.
Singapura: 85 → negara Asia dengan tingkat korupsi sangat rendah.
Amerika Serikat (US): 69 → relatif cukup baik.
China: 41 → masih dianggap cukup korup.
Indonesia: 40 → tingkat korupsi masih tinggi.
Somalia: 9 → salah satu negara dengan skor terendah (sangat tinggi tingkat korupsinya).
Secara umum:
Skor 0 berarti sangat korup.
Skor 100 berarti sangat bersih (nyaris tanpa korupsi).
Pemateri : KH Ma'ruf Khozin - Ketua Aswaja Center, PWNU
Jawa Timur
Tema:Mahasiswa UNUSA sebagai generasi Aswaja An Nahdiyah
Mahasiswa UNUSA sebagai generasi Aswaja An-Nahdliyah
Hasil resume :
Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) secara inheren diposisikan sebagai penerus dan pewaris tradisi keilmuan serta keagamaan Aswaja An-Nahdliyah, mengingat universitas ini didirikan dan berafiliasi langsung dengan Nahdlatul Ulama (NU)—organisasi Islam terbesar di Indonesia yang menjadi rujukan utama paham Aswaja An-Nahdliyah. Berikut penjelasan mendalam mengenai peran dan karakteristik mahasiswa UNUSA sebagai generasi Aswaja An-Nahdliyah:
1. Landasan Ideologis: Apa Itu Aswaja An-Nahdliyah?
Aswaja (Ahlusunnah wal Jama'ah): Merupakan paham keislaman yang mengikuti jejak generasi terbaik (salafus shalih) dalam beragama, berpegang pada Al-Qur'an, Hadis, Ijma Ulama, dan Qiyas.
An-Nahdliyah: Merujuk pada corak ke-NU-an yang menekankan keseimbangan (tawazun), moderasi (tawassuth), toleransi (tasamuh), dan kemaslahatan (ishlah).
Ciri Khas:
Berada di tengah (bukan ekstrem kanan maupun kiri).
Menghormati keberagaman mazhab (terutama Syafi'iyyah dalam fiqih, Asy'ariyyah/Maturidiyyah dalam akidah, dan Al-Ghazali dalam tasawuf).
Mengutamakan dampak sosial dari pemahaman agama (fiqih sosial).
2. Peran Mahasiswa UNUSA sebagai Generasi Aswaja An-Nahdliyah
a. Penjaga Tradisi Keilmuan
Mahasiswa UNUSA dididik untuk memahami dan mengamalkan khasanah keilmuan klasik NU (kitab kuning) dengan pendekatan kontekstual.
Contoh: Studi kitab seperti Ta'limul Muta'allim, Fathul Qorib, atau Uqudulujain yang menjadi rujukan etika dan ibadah dalam tradisi NU.
b. Agen Moderasi Beragama
Sebagai kader NU, mahasiswa UNUSA diarahkan untuk menjadi pelopor toleransi dan perdamaian:
Menolak radikalisme dan ekstremisme.
Membangun dialog antaragama dan budaya.
Menyebarluaskan Islam yang rahmatan lil 'alamin (kasih sayang untuk semesta).
c. Pejuang Kemaslahatan Sosial
Aswaja An-Nahdliyah mengutamakan amar ma'ruf nahi munkar melalui pendekatan yang bijak:
Terlibat dalam pemberdayaan masyarakat (ekonomi, pendidikan, kesehatan).
Mengadvokasi isu-isu kemanusiaan (lingkungan, kesetaraan gender, anti-korupsi).
Contoh: Kegiatan Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Islam di UNUSA yang fokus pada sosial kemasyarakatan.
d. Inovator dalam Tradisi
Mahasiswa UNUSA didorong untuk mengadaptasi nilai-nilai Aswaja dalam konteks modern:
Mengembangkan teknologi dan startup berbasis nilai Islam.
Menyelesaikan masalah kontemporer (seperti hoaks, radikalisme online) dengan perspektif Aswaja.
Mempopulerkan budaya lokal (seperti gamelan, wayang) sebagai bagian dari dakwah kebudayaan NU.
3. Implementasi di Kampus UNUSA
Kurikulum: Mata kuliah wajib seperti Pendidikan Agama Islam, Ke-NU-an, dan Aswaja An-Nahdliyah yang mengajarkan landasan teologis dan praktis.
Kegiatan Kemahasiswaan:
Majelis Taklim: Kajian kitab klasik dan kontemporer.
Lembaga Semi Otonom (LSO): Seperti PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) atau IPNU/IPPNU yang mengkader aktivis Aswaja.
Festival Budaya NU: Mengangkat tradisi seperti shalawatan, hadrah, dan dzikir.
Kolaborasi dengan NU: Mahasiswa terlibat aktif dalam kegiatan PBNU atau PWNU Jawa Timur, seperti Muktamar, Harlah NU, atau program sosial.
4. Tantangan bagi Generasi Aswaja An-Nahdliyah
Globalisasi dan Radikalisme: Menjaga identitas Aswaja di tengah arus pemikiran transnasional yang ekstrem.
Disrupsi Digital: Menyebarkan narasi Aswaja yang moderat di ruang maya yang rentan hoaks.
Relevansi Pemuda: Membuktikan bahwa Aswaja An-Nahdliyah adalah solusi bagi masalah modern, bukan sekadar warisan masa lalu.
5. Kesimpulan: Mahasiswa
UNUSA sebagai "Generasi Harapan"
Mahasiswa
UNUSA bukan sekadar penuntut ilmu, melainkan kader peradaban yang dituntut untuk:
Menginternalisasi nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah dalam kehidupan pribadi.
Mengimplementasikan prinsip moderat, toleran, dan maslahah dalam bermasyarakat.
Mengembangkan tradisi intelektual NU untuk menjawab tantangan zaman.
Dengan demikian, mereka menjadi jembatan antara warisan ulama Nusantara dan masa depan Indonesia yang berkeadilan, beradab, dan berkepribadian Islam. Seperti dikatakan KH. Hasyim Asy'ari: "NU itu tugasnya nguri-uri (melestarikan) yang shalih dan ngembangke (mengembangkan) yang aswaja." Mahasiswa UNusa adalah garda terdepan dalam misi ini.
Pemateri : Ainun Najib
Ahli IT Indonesia
Tema:
Perguruan Tinggi di Era Digital dan Revolusi Industri
Hasil Resume :
Perguruan tinggi di era digital dan revolusi industri mengalami transformasi besar dalam cara mereka berfungsi, mengajar, dan berinteraksi dengan mahasiswa serta masyarakat. Berikut adalah beberapa aspek utama dari perubahan tersebut:
Pembelajaran Digital dan Online
Penggunaan platform e-learning, MOOC (Massive Open Online Courses), dan webinar memungkinkan akses pendidikan yang lebih luas dan fleksibel.
Mahasiswa dapat belajar kapan saja dan di mana saja, meningkatkan inklusivitas dan efisiensi.
Kurikulum Berbasis Teknologi
Integrasi teknologi terbaru seperti kecerdasan buatan, big data, dan Internet of Things (IoT) ke dalam kurikulum.
Pengembangan program studi baru yang relevan dengan kebutuhan industri 4.0.
Revolusi Industri 4.0 dan Keterampilan Baru
Perguruan tinggi menyesuaikan kurikulum untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi otomasi, robotika, dan analitik data.
Fokus pada soft skills seperti kreativitas, kolaborasi, dan pemecahan masalah.
Infrastruktur Digital dan Infrastruktur Kampus
Peningkatan infrastruktur TI, seperti jaringan broadband cepat, laboratorium virtual, dan perangkat lunak kolaboratif.
Kampus digital yang mendukung aktivitas belajar dan penelitian.
Kolaborasi dan Kemitraan Global
Kemitraan dengan institusi internasional, perusahaan teknologi, dan startup untuk inovasi dan riset bersama.
Program pertukaran mahasiswa dan dosen secara virtual maupun fisik.
Pengukuran dan Evaluasi Berbasis Data
Penggunaan Learning Analytics untuk memonitor kemajuan mahasiswa dan meningkatkan proses pembelajaran.
Data-driven decision making dalam pengelolaan institusi.
Peran Perguruan Tinggi sebagai Inovator dan Penggerak Revolusi Industri
Perguruan tinggi tidak hanya mengajar tetapi juga menjadi pusat inovasi dan penelitian terapan.
Pengembangan startup dan inkubator bisnis berbasis teknologi.
Secara keseluruhan, perguruan tinggi di era digital dan revolusi industri harus mampu beradaptasi dengan cepat agar tetap relevan dan mampu menghasilkan lulusan yang kompeten di era yang penuh perubahan ini.
Komentar
Posting Komentar